OEE (Overall Equipment Effectiveness) - Lean Indonesia

OEE (Overall Equipment Effectiveness) – Part 2

Opt In Image
FREE E-book!
Cerita Pendek dan Case Problem Solving

Hanya untuk waktu tertentu, ebook 'Para Tikus, Pasta Gigi, dan Problem Solving' dibagikan secara gratis. FREE. Buku ini memberikan penjelasan problem solving yang ringan tetapi tepat sasaran. Lengkapnya.

OEE (Overall Equipment Effectiveness) adalah indikator yang sangat ampuh untuk memantau produktivitas mesin, produktivitas orang, dan produktivitas material. Pengukuran adalah dasar dari improvement, dan jika kita sudah mempunyai ukuran maka kita bisa melakukan improvement. Bagian Pertama dari tulisan mengenai OEE (Overall Equipment Effectiveness) dapat diklik dari link ini.

OEE (Overall Equipment Effectiveness) - Lean Indonesia

Produktivitas mesin disini bisa dipantau dari loss karena downtime mesin dan lama waktu setup (changeover, cleaning, adjustment, pergantian produk). Produktivitas orang bisa dipantau dari loss karena idle, minor stoppages, dan kecepatan menurun. Idle karena orang tidak tersedia di line produksi, idle karena peralatan tidak tersedia, idle karena ruangan tidak memenuhi spesifikasi, atau idle karena bahan baku pendukung tidak tersedia.

Minor stoppage dalam OEE (Overall Equipment Effectiveness) adalah penghentian sementara mesin karena mesin jammed, hang, sehingga memerlukan waktu reset, loading, dan unloading. Kecepatan menurun adalah bentuk kerugian karena kecepatan mesin tidak dijalankan pada posisi nominal atau kecepatan orang tidak mencapai kecepatan nominal. Produktivitas material bisa kita pantau dari jumlah produk baik keluaran pertama dibandingkan dengan total produk yang diproses.

High Level OEE (Overall Equipment Effectiveness) secara sederhana bisa dihitung dengan formula sederhana berikut:
OEE = (actual output baik)/(jumlah waktu operasional * cycle time)

Contoh:
Waktu Operational = 7 jam
Cycle Time = 5 detik per unit
Output Standard = (7jam x 3600 detik) / 5 detik = 5,040 unit
Output Actual Baik = 3,050 unit

OEE = (3,050 / 5,040) x 100% = 61%

Sayangnya, jika menggunakan high level OEE kita tidak mengetahui masalah utama berada dimana?
Apakah karena availability mesin, rate, atau quality issue sehingga akan kesulitan menentukan area utama untuk melakukan perbaikan.

Rumus yang dipakai OEE (Overall Equipment Effectiveness) = Availability x Rate x Quality

Pembagian waktu sebagai berikut:
Waktu Calendar = waktu yang tersedia satu tahun 365 hari
Waktu Available = waktu calendar dikurangi hari libut
Waktu Operational = waktu available dikurangi tidak ada order
Waktu Produksi = waktu operational dikurangi setup
Waktu Running = waktu produksi dikurangi downtime
Waktu Bersih = waktu produksi dikurangi speed loss
Waktu Bersih Efektif = waktu bersih dikurangi quality loss

Waktu Operasional adalah basis yang kita pakai untuk menghitung OEE.

Availability = ((waktu operational – waktu setup) – (waktu downtime mesin)) / waktu operasional

Contoh:
Waktu Operational = 7 jam
Waktu Setup = 30 menit (0.5 jam)
Waktu Downtime = 30 menit (0.5 jam)
Availability = (7 – 0.5 – 0.5) / 7 = 86%

Waktu Running = 6 jam
Cycle time = 5 detik per unit
Jumlah Produk diproses = 4,000 unit
Rate = (Cycle time x jumlah produk diproses) / waktu running
Rate = (5 detik x 4,000 unit) / 6 jam = (20,000 detik) / (21,600 detik) = 93%

Jumlah baik = 3,050 unit
Quality = Jumlah baik / Jumlah produk di proses = 3,050 / 4,000 = 76%

OEE (Overall Equipment Effectiveness) = Availability x Rate x Quality
OEE (Overall Equipment Effectiveness) = 86% x 93% x 76% = 61%

Dari data diatas kita bisa mengetahui bahwa masalah utama terletak pada quality. Fokus improvement harus ditujukan untuk mengurangi reject pada proses. Inilah rumusan sederhana dari OEE (Overall Equipment Effectiveness).

Republished by Blog Post Promoter

3 comments

Post a comment

You may use the following HTML:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>