Kaizen, terminologi Bahasa Jepang untuk “perbaikan”, atau “perubahan yang lebih baik” mengacu pada filosofi atau praktek yang fokus pada perbaikan terus-menerus dari proses dalam manufaktur, teknik, pengembangan permainan, dan manajemen bisnis. Ketika hal ini digunakan dalam arti bisnis dan diterapkan pada tempat kerja, kaizen adalah Continue reading →
Why Why Analysis (analisa kenapa kenapa) adalah suatu metode yang digunakan dalam root cause analysis dalam rangka untuk problem solving yaitu mencari akar suatu masalah atau penyebab dari defect supaya sampai ke akar penyebab masalah.
Istilah lain dari why why analysis adalah 5 whys analysis. Metoda root cause analysis ini dikembangkan oleh pendiri Toyota Motor Corporation yaitu Sakichi Toyoda yang menginginkan setiap individu dalam organisasi mulai level top management sampai shopfloor memiliki skill problem solving dan mampu menjadi problem solver di area masing-masing.
Why Analysis - Simple Tools in Root Cause Analysis
Metoda yang digunakan oleh why why analysis adalah dengan menggunakan iterasi yaitu pertanyaan MENGAPA yang diulang beberapa kali sampai menemukan akar masalahnya. Contohnya sebagai berikut:
Masalah: Mesin Breakdown.
Mengapa? Komponen automator tidak berfungsi
Mengapa tidak berfungsi? Usia komponen sudah melebihi batas lifetime 12 bulan
Mengapa tidak diganti? Tidak ada yang tahu
Mengapa tidak ada yang tahu? Tidak ada jadwal rutin maintenance
Mengapa tidak ada jadwal rutin? Inilah akar masalahnya
Terkadang untuk sampai pada akar masalah bisa pada pertanyaan kelima atau bahkan bisa lebih atau juga bisa bahkan kurang tergantung dari tipe masalahnya. Metoda root cause analysis ini cukup mudah dan bisa sampai pada akar masalahnya, bukan hanya di permukaan saja. Dan mencegah masalah tersebut terulang lagi.
Tahapan umum saat melakukan root cause analysis dengan why why analysis:
Menentukan masalahnya dan area masalahnya
Mengumpulkan team untuk brainstorming sehingga kita bisa memiliki berbagai pandangan, pengetahuan, pengalaman, dan pendekatan yang berbeda terhadap masalah
Melakukan gemba (turun ke lapangan) untuk melihat actual tempat, actual object, dan actual data
Mulai bertanya menggunakan why why
Setelah sampai pada akar masalah, ujilah setiap jawaban dari yang terbawah apakah jawaban tersebut akan berdampak pada akibat di level atasnya. Contoh: apakah kalau ada jadwal rutin maintenance maka akan mudah buat maintenance untuk melakukan penggantian komponen secara rutin. Apakah hal tersebut paling masuk akal dalam menyebabkan dampak di level atasnya. Apakah ada alternatif kemungkinan penyebab lainnya?
Pada umumnya solusi tidak mengarah pada menyalahkan ke orang tapi bagaimana cara melakukan perbaikan sistem atau prosedur
Jika akar penyebab sudah diketahui maka segera implementasikan solusinya
Monitor terus performancenya untuk memastikan bahwa masalah tersebut tidak terulang lagi.
Ishikawa diagram atau yang biasa disebut juga dengan diagram tulang ikan, herringbone diagram, cause and effect diagram, maupun fishikawa ini adalah sebuah causal diagram yang menunjukan causes dari suatu event atau kejadian tertentu. Ishikawa diagram yang ditemukan oleh Kaoru Ishikawa pada tahun 1990 ini adalah salah satu tools yang digunakan dalam melakukan Root Cause Analysis (RCA). Continue reading →
Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) atau biasa disebut juga dengan potential failure modes and effects analysis, atau failure modes, Effects, and Criticality Analysis (FMECA) ini merupakan sebuah pendekatan step-by-step untuk mengidentifikasi segala kemungkinan kegagalan dalam desain, proses assembly atau manufaktur, dan produk atau service.
Failure modes sendiri mengarah pada suatu langkah maupun mode yang mungkin mengalami kegagalan. Sedangkan Effects analysis mengarah pada suatu studi yang membahas tentang konsekuensi dari kegagalan tersebut.