Category: TPM

Total Productive Maintenance - TPM - SSCX - Training Consulting

Mengenal Total Productive Maintenance TPM

Di artikel ini, kita akan coba membahas Total Productive Maintenance.

Beberapa masalah umum yang terjadi pada mesin misalnya mesin yang kotor, peralatan yang terbengkalai, mur dan baut hilang, oli yang belum diganti, kebocoran pada mesin, bunyi-bunyi yang tidak normal, getaran mesin yang berlebihan, filter yang belum diganti, dan lain-lain. Total Productive Maintenance berprinsip bahwa hal ini disebabkan oleh kurangnya keterlibatan total dari operator produksi dalam perawatan mesin dan cenderung menyerahkan perawatan mesin ke pihak maintenance. Hal tersebut terjadi karena kurangnya standard perawatan mesin, kurangnya pelatihan kepada operator, kurang terampilnya operator dalam menjalankan perawatan, dan juga lingkungan kerja yang kurang memadai.

Total Productive Maintenance didefinisikan sebagai konsep perbaikan berkelanjutan yang melibatkan seluruh karyawan untuk meningkatkan perawatan mesin, peralatan, dan meningkatkan produktivitas. Indikator kesuksesan TPM di ukur oleh OEE (Overall Equipment Effectiveness) dimana ukuran kinerja ini mencakup ke berbagai macam kerugian (losses) seperti downtime, changeover, speed loss, idle mesin, stoppages, startup, defect, dan rework.

Konsep Total Productive Maintenance sendiri memiliki 5S sebagai foundasinya dan ada 8 pilar utamanya.

Pilar utamanya yaitu Autonomous Maintenance (Jishu Hozen), Planned Maintenance, Focused Improvement (Kobetsu), Quality Maintenance, Initial Control, Training, Total Productive Maintenance - Office, dan Environment Health Safety. Pilar AM dalam Total Productive Maintenance ingin mewujudkan operator yang paham terhadap perawatan mesin, mampu mendeteksi keadaan tidak normal pada mesin, memahami fungsi peralatan mesin, mampu menemukan penyebab keadaan tidak normal, memahami hubungan antara kualitas hasil mesin dengan fungsi peralatan, mampu memperbaiki, dan mampu mencegah terjadinya kondisi tidak normal.

Planned Maintenance sendiri mencakup Breakdown Maintenance, Preventive Maintenance, dan Improvement Maintenance. Sedangkan Initial Control berfokus untuk mengendalikan maintenance cost mulai dari pembelian, mesin kualifikasi, sampai mesin di scrap. Focused Improvement merupakan tumpuan improvement yang focus pada suatu masalah tertentu yang dilakukan oleh kelompok. Quality Maintenance menciptakan mesin yang menghasilkan output bebas defect. Training mencakup training mesin, metoda improvement, dan juga environment health safety. TPM office menganalogikan alat administrasi di office seperti mesin. Sedangkan EHS mencakup assessment resiko mesin terhadap environment, health, dan safety.

Inilah Total Productive Maintenance secara sederhana.

Republished by Blog Post Promoter

Planned Maintenance

Aktifitas maintenance dalam melakukan pendekatan kepada mesin terbagi menjadi beberapa tingkatan yaitu:

  1. Breakdown maintenance
  2. Time based maintenance
  3. Usage based maintenance
  4. Condition based maintenance
  5. Predictive maintenance
  6. Closed loop automation + maintenance prevention

Elemen aktivitas utama dalam PM adalah sebagai berikut:

  1. Membantu aktivitas Autonomous Maintenance dengan training untuk meningkatkan skill operator dalam hal maintenance
  2. Mencegah terjadinya kesalahan berulang dengan melakukan root cause analysis untuk menghilangkan potensi kegagalan
  3. Membuat sistem planned maintenance untuk mencegah downtime dan cacat produksi
  4. Manajemen lubrikasi untuk mencegah mesin gagal
  5. Sparepart Management untuk menjamin ketersediaan komponen kritikal dengan inventori paling optimum
  6. Maintenance Cost Management untuk menghemat biaya perbaikan
  7. Riset dan analisa untuk tercapainya condition based maintenance
  8. Meningkatkan skill setiap individu maintenance

Tahap-tahap untuk mengimplementasikan PM:

  1. Melakukan assessment terhadap mesin untuk mengetahui secara rinci masalah yang terjadi
  2. Melakukan restorasi (mengembalikan ke kondisi awal) dan melakukan improvement pada bagian yang dianggap kurang baik
  3. Membuat system dan implementasi Maintenance Management System yang mencakup pencatatan aktivitas, tipe mesin, lama downtime, konsumsi sparepart, biaya maintenance, etc
  4. Membuat PM yang terjadwal dengan baik dan di standardkan (standard bagaimana melaksanakan aktifitas PM dan menggunakan visual management untuk jadwal PM)
  5. Menjalankan kegiatan PM dengan benar
  6. Mengevaluasi keefektifan kegiatan PM berdasarkan indikator kinerja seperti MTBF (kehandalan/reliability mesin) dan MTTR (kemampuan/skill person)

PM yang efektif akan menghasilkan manfaat:

  • Mesin yang handal, prima, dan selalu siap digunakan
  • Biaya perawatan yang lebih optimum
  • Sparepart yang tersedia dan dalam jumlah minimum dan ideal
  • Meningkatkan kinerja OEE (Overall Equipment Efficiency)

Republished by Blog Post Promoter

Haruskah changeover time mempengaruhi nilai OEE? Dan Pertanyaan OEE Lainnya.

Overall Equipment Effectiveness

Mungkin industri yang tidak menggunakan Lean pun kenal dengan istilah ini. Overall Equipment Effectiveness (OEE) adalah matriks hierarki yang ditemukan oleh Seiichi Nakajima pada tahun 1960 yang dapat mengevaluasi dan mengindikasikan seberapa efektif suatu operasi manufaktur dimanfaatkan.

Hasil dari OEE ini dinyatakan dalam bentuk umum yang memudahkan Anda dalam membandingkan antara unit manufaktur dalam beberapa industri yang berbeda.

Continue reading

Republished by Blog Post Promoter